Coda – Akhir Sebuah Kisah

                Hari ini, laki-laki itu tertunduk lesu. Raut wajahnya sendu, kalut dengan seribu macam gagasan-gagasan dalam kepala yang ia sendiri tak tahu bagaimana mereka muncul, pun tak tahu bagaimana merka dirapikan dan dijinakkan.

                Ia memesan frappucino dingin dengan gula normal, menjauh dari kopi hitam americano yang selalu jadi pilihan setiap ia datang ke kafe itu. Memesan kopi hitam itu, sama saja dengan memesan kenangan masa lalu.

                Semua baik-baik saja, jika bukan sekarang, semua akan baik-baik saja. Gumamnya dalam hati.  Ia lalu duduk di kursi sudut jendela yang selalu ia tempati. Tak seperti biasa, ia tidak membawa buku untuk dibaca. Hal yang sering ia lakukan untuk membunuh waktu.

                Ia hanya duduk diam, menatap keluar jendela.

                Ting tong. Bel pintu kafe berdering pertanda pelanggan baru tiba. Laki-laki itu membuyarkan lamunannya, menolehkan pandangan terhadap seorang perempuan yang berdiri mematung di depan pintu masuk.

                Laki-laki itu tersenyum, melambaikan tangan.

                Perempuan itu tersenyum juga, mengangguk kecil.

                “Hai.”

                “Hai.”

                Perempuan itu kemudian berjalan pelan, dengan sedikit ragu, lalu duduk berhadapan dengan laki-laki itu.

                Ah, kenapa dia selalu secantik ini.  Laki-laki itu bergumam dalam hati.

                Tidak seperti biasanya, dimana mereka bercakap dengan suara keras yang kadang membuat pelanggan lain risih, hari ini, mukaddimah mereka diisi dengan keheningan selang beberapa saat.

                Laki-laki itu mengepalkan tangan di bawah meja, sembari merapalkan mantra yang sama di kepala ribuan kali.

                Semua baik-baik saja, jika bukan sekarang, semua akan baik-baik saja.

                [jeda sejenak]

                Rintik hujan di luar kafe perlahan memecah kerumunan dan memaksa orang-orang mencari tempat berteduh. Seperti biasa, hujan turun pertanda kafe ini menjadi sepi. Tak ada pelanggan lain, selain sepasang laki-laki dan perempuan yang menjadi tokoh inti cerita ini.

                Dua gelas minuman telah tersaji di meja mereka. Gelas milik si perempuan sudah habis sepertiga.

                “Mbak, pesan satu thai tea lagi ya.” laki-laki itu melambai ke barista kafe.

                “Lif, aku udah fitting baju kemarin. Nggak usah, aku lagi menghindari gula.”

                Laki-laki menoleh, memandang remeh, “Serius?”

                Perempuan itu menggelengkan kepala, “Nggak deng, aku kan nggak pernah nolak gratisan.”

                Keduanya tertawa kecil, suasana canggung di awal tadi sudah hampir menguap sepenuhnya. Satu melempar pertanyaan, satunya memberi jawaban, begitu terus secara bergantian. Topiknya bermacam-macam, dari persoalan seorang artis yang tidak bisa membuka buah salak, hingga isu Kim Yo Jong yang berpotensi menjadi diktator wanita pertama di dunia.

                “Jadi gini, kalau aku leftist, apakah aku harus bersedih karena kebebasan berpendapat masih dikekang, atau bersorak gembira karena seorang perempuan bisa memimpin negara yang budaya patriarkinya masih kental?” laki-laki itu melempar pertanyaan.

                “Jadi gini, pertanyaanmu ini sifatnya satir atau murni pertanyaan?”

                “Kok kamu nanya balik, ini kan pertanyaan sederhana, tinggal milih a atau b.”

                “Kan kamu pernah bilang kalau nggak semua pertanyaan bisa dijawab dengan a atau b.”

                “Kan nggak semua, artinya ada yang bisa dijawab dengan a atau b dong.”

                “Betul sih, tapi pertanyaan ini termasuk salah satu dari ‘nggak semua’ itu.”

                “Memang klasifikasi dari ‘nggak semua’ dan non-‘nggak semua’ itu gimana? Kok kamu langsung tahu?”

                “Ya aku langsung tahu aja, naluri perempuan, nggak butuh penjelasan.”

                Laki-laki itu merasakan lidahnya tertahan untuk mengucapkan balasan, bersamaan dengan segelas thai tea yang dibawa oleh seorang barista yang berusaha menahan tawa.

                “Congratulation, madam. Aku kalah, terimalah minuman ini sebagai hadiah.”

                Perempuan itu mengangguk takzim, menyambar gelas dan menyeruput isinya hingga ia mendadak tersedak, sembari spontan memukul-mukul kecil dadanya.

                Laki-laki itu menggumam kecil, “rasain.”

                “Apa kamu bilang?”

                “Nggak bilang apa-apa kok.”

                Setelah memulihkan diri dari sedakan tadi, perempuan itu kembali menyeruput tropi kemenangannya, kini dengan lebih berhati-hati. Laki-laki itu hanya diam saja, mengamati sosok yang ada di hadapannya dengan jantung yang berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.

Kamu nggak pernah berubah ya, selalu seperti ini, seperti kamu yang aku kenal.

                Ia lalu menoleh sekilas ke luar jendela, hujan rintik tadi telah berubah menjadi hujan deras, tanpa ada tanda reda dalam waktu dekat.

                Ia ingin berlama-lama, duduk berdua saja seperti ini. Sebagian kecil dari hatinya bahkan menginginkan kemustahilan, ia ingin waktu di luar kafe ini berhenti. Ia ingin orang-orang di luar sana mematung, hari tak berganti malam, pasang tak berganti surut. Mungkin pengecualian terhadap hujan, ya, biarkan hujan di luar tetap turun, terus turun tanpa henti, sehingga jika salah satu dari mereka berkata ‘kita pergi setelah hujan reda’, kata ‘pergi’ tidak akan pernah terjadi.

                Sayangnya, sebagian besar dari hatinya tahu, hal-hal diluar nalar seperti itu, di dunia yang berjalan dibawah asas aksi-reaksi, mustahil untuk terjadi.

                Laki-laki itu kembali mengepalkan tangan di bawah meja, kembali merapalkan mantra yang sama.

                Semua baik-baik saja, jika bukan sekarang, semua akan baik-baik saja.

                “Boleh aku liat foto dia?”

                Perempuan itu masih menyereput minumannya.

                Dua detik, tiga detik, empat detik.

                Ia meletakkan gelas di atas meja.

                “Apa tadi?” balasnya, pertanyaan remeh yang sebenarnya tak perlu, hanya ingin mengonfirmasi.

                Laki-laki itu tersenyum, “Boleh aku liat foto dia?”

                ……

                “Foto calon suamimu.”

[jeda sejenak]

                “Aku ketemu dia pas lagi pelatihan kerja.”

                “Ah, pelatihan yang pas aku lagi di luar itu ya.”

                “Yap.”

                Laki-laki itu mengamati foto yang ada ditampilkan di layar gawai selang beberapa saat.  “Ganteng kok, mirip Siwon Super Junior.”

                “HAHH?”

                “Canda.”

                Hening sejenak.

                Dua detik. tiga detik.

                “Resepsinya sama pestanya kapan?”

                “Dua minggu lagi, hari Kamis.”

                hari sibuk.

                “Di mana?”

                “Di rumah.”

                sederhana.

                Ia sekali lagi memandang keluar jendela sejenak, “Jangan bilang undangannya kamu sebar lewat WA, budgetnya 10 juta, terus yang kamu undang nggak sampai 50 orang.”

                Perempuan itu terdiam sejenak, lalu tertawa kecil, “hehehe.”

                “Ini aku tuntut di pengadilan atas dasar pengambilan alih hak cipta dan konsep pernikahan sepihak loh ya.” ujar laki-laki itu, sembari pura-pura menggerutu. Candaan yang dibalas dengan diam oleh perempuan itu.

                Percakapan kali ini tak semulus dan sesigap sebelumnya, saat mereka membahas Kim Yo Jong dan Korea Utara. Satu dua kali balasan, diikuti dengan hening panjang. Biasanya, laki-laki itu akan mencari topik baru, membuat manuver dengan pernyataan lucu, atau meledek perempuan di depannya dengan sarkasme yang membuat telinga merah.

Tapi kali ini tidak begitu, ia ingin sedikit menjadi egois. Ia telah melontarkan balasan, sepatutnya lawan bicara yang kembali berbicara. Seperti bola ping-pong yang terpantul dari pemain kiri ke pemain kanan.

                Lima detik, enam detik.

                “Aku minta maaf ya.” perempuan itu akhirnya mengaku kalah.

                “Kita cuma beberapa bulan nggak ketemu langsung, tapi situasi jadi runyam begini.” Ia melanjutkan.

                Laki-laki itu diam sejenak, memilah dan memilih kata-kata.

                “Kamu nggak perlu minta maaf, kamu nggak berbuat salah kok. Takdir kita aja yang udah kayak gini.”

                Perempuan itu tidak langsung membalas, bukan karena memilih

                “Terus kamu bagaimana?”

                “Aku udah nyiapin racun tikus di tasku buat bentar pas pulang.”

                Perempuan itu memandang kesal.

                “Canda, gimana ya? Intinya aku nggak bakal mati kok.”

                “Aku serius.”

                Laki-laki itu menghela nafas panjang, “Kamu mau jawaban yang singkat atau yang gamblang?”

                “Singkat.”

                “Aku bakal baik-baik saja, serius.”

                “Kalau yang gamblang?”

                Laki-laki itu sontak menggelengkan kepala. Perempuan yang ada di depannya ini memang penuh dengan kejutan.

                Ia diam sejenak, mengambil ancang-ancang.

                “Aku bakal baik-baik saja, tapi tidak semudah itu. Kenangan kita terlalu banyak, aku butuh waktu.”

                “Kamu bakal jadi gangguan paling menjengkelkan di awal-awal, mengganggu pekerjaanku, tidurku, membuat mood bahagiaku tiba-tiba menjadi sendu.”

                “Tapi perlahan, aku bakal menata diri kok, aku bakal cari kesibukan, melakukan hal-hal yang tidak ada kaitannya denganmu, membuat definisi baru terhadap hal-hal bahagia yang tak mesti ada dirimu di dalamnya.”

                “Perlahan aku bakal… ah aku kok bicara kayak orang di film-film gitu yak, intinya seperti itu. Aku bakal baik-baik saja, tapi aku butuh waktu.”

                Sesederhana itu ya.

                “Berapa lama?” Perempuan itu bertanya dengan lirih.

                “Ya, tergantung, kalau aku tiba-tiba dapat perempuan yang lebih cantik dari kamu besok, kira-kira seminggu cukuplah.”

                Perempuan itu tertawa ketir. Ia saat ini merasa sebagai orang paling jahat di dunia.

                “Aku minta maaf.”          

                Laki-laki itu tersenyum, sekilas ia ingin membantah permintaan maaf dari perempuan yang ia sayangi sekian lama itu. Bahwa dia tak salah, dan hidup memang selalu penuh dengan kejutan yang, kadang, menjengkelkan di mata manusia.

Tapi ia tahu, ini bukanlah saat untuk saling melempar ‘kebenaran’.

                Semua baik-baik saja, jika bukan sekarang, semua akan baik-baik saja.

                “Aku juga minta maaf.”

[Jeda sejenak]

                Hujan perlahan menjinak, namun malam yang semakin larut membuat kafe itu sepi dan belum didatangi oleh pengunjung lain.

                Perempuan itu telah pergi, beberapa menit sebelumnya setelah diantar oleh laki-laki itu ke taksi yang ia pesan sebelumnya. Setelah saling melempar ucapan selamat tinggal. Ia kembali ke kursinya, menikmati lukisan percikan air di permukaan jendela.

                Ia menggumam kecil, kepalanya merintih untuk berimajinasi. Ia berangan, bahwa hal seperti ini akan lebih mudah dilalui seandainya dunia berjalan seperti cerita pada film-film romantis. Lelaki yang patah hati memutuskan ke luar negeri, di luar sana berpetualang sembari berdamai dengan diri sendiri, lalu kemudian menemukan cinta sejati. Boom. Tamat. Happy Ending.

                “Mas, permisi. Mohon maaf kafenya sudah mau tutup.” seorang pegawai kafe tiba-tiba membuyarkan lamunannya.

                “Oh ya, maaf mbak, bill-nya ya.”

Setelah pamit terhadap pegawai kafe. Ia bergegas keluar dan menghampiri hujan yang telah berubah menjadi rintik kecil. Ia tertawa sendiri, mengingat pikiran-pikiran naifnya beberapa menit sebelumnya. Sesekali ia mengatur nafasnya, menahan kontraksi di pipinya sebelum sampai ke rumah.

Semua baik-baik saja, jika bukan sekarang, semua akan baik-baik saja.